Google

Kamis, Februari 28, 2008

Komponen Portofolio

Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran meningkatkan profesionalisme guru mengangkat harkat dan martabat guru.
Apa bagaimana sertifikasi dilaksanakan ?
Sasaran
Sejumlah 200. 450 guru keras dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan, PNS dan non PNS. Terdiri atas 20.000 guru SD dan SMP yang sudah didaftar pada tahun 2006, dan 180. 450 guru SD , SMP, SMA, SMK, dan SLB yang didaftar pada tahun 2007
Syarat Peserta Sertifikasi
Memiliki kualifikasi minimal S1 atau D 4
Guru PNS dan non PNS pada sekolah negeri dan swasta
Penetapan Peserta Sertifikasi Guru
Penetapan peserta sertifikasi diawali dengan penetapan kuota peserta sertifikasi guru per kabupaten/kota masing–masing untuk PNS dan non PNS.Penetapan kuota didasarkan pada jumlah guru keseluruhan yang terdapat dalam sistem inpormasi manjemen pendidik dan tenaga kependidikan (SIMPTK) Ditjen PMPTK
Penetapan peserta sertifikasi guru tahun 2007 didasarkan pada kreteria dengan urutan Prioritas: masa kerja sebagai guru, usia, golongan, (bagi PNS), beban mengajar, tugas tambahan dan prestasi kerja.
Dinas pendidikan kabupaten/kota menyusun untuk daftar urut guru berdasarkan periotas pertama yaitu masa kerja, yang memiliki masa kerja paling lama berada diposisi paling atas. Apalagi ada guru memiliki masa kerja yang sama maka diurutkan dengan keteria berikutnya yaitu usia, dan golongan yang sama maka diurutkan berdasarkan beban mengajar demikian seterusnya. Daftar urut ini dibuat perjenjang
Berdasarkan daftar urut tersebut, Dinas pendidikan Kabupaten/kota menetapkan peserta sertifikasi guru sesuai dengan jumlah kuota perjenjang pendidikan baik PNS, dan mengumumkan peserta secara terbuka
Apa bila guru ada yang dirugikan dalam proses penetapan peserta sertifikasi guru, harap diklarifikasikan ke Dinas pendidikan kabupaten/kota. Jika tidak ada solusi dapat melapor ke pusat melalui unit pelayanan sertifkasi guru di Direktorat propesi pendidik, Direktorat Jendral PMPTK.
Pelaksanaan Sertifkasi Guru
Sertifasi guru dakam jabatan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan di tetapkan oleh menteri Pendidikan Nasional. Sesuai Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007,sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian Portopolio tersebut merupakan pengakuan atas pengalaman propesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang yang mendeskripsikan:
Kualifikasi akademik
Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman mengajar
Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
penilaian dariatasan dan pengawas
Prestasi akademik
Karya pengembangan propesi
Keikutsertaan dalam Forum ilmiah
Pengalaman diorganisasi dibidang kependidikan dan sosial
penghargaan yang Relevan dengan bidang pendidikan.


KOMPONEN PORTOPOLIO
Kualifikasi akademik, tingkat pendidikan Formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1, S2, atau S3) maupun non gelar (D4 atau post Graduate Diploma)baik di dalam maupun di luar negeri Bukti fisik yang dikumpulkan: foto kopi ijazah/ sertifikasi yang telah dilegalisasi oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan atau oleh Ditjen Dikti untuk ijazah/sertifikat luar negeri.
Pendidikan dan pelatihan, pengalaman dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan pengembangan/atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Bukti fisik yang dikumpulkan: foto kopi sertifikasi/piagam/surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Pengalaman mengajar, masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah,dan atau keopok masyarakat penyelenggara pendidikan) Bukti Fisik: foto kopi SK, yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, perencanaan pebelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Bukti Fisik : dokumen perencanaan pembelajaran (RP/ RPP/SP)yang diketahui /disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran dikelas. Bukti fisik yang diminta adalah dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas dengan menggunakan format penilaian yang telah disediakan ,dan dilampirkan dalam amplok penutup.
Penilaian dari atasan dan pengawas, penilaian oleh kepala sekolah dan ngawas terhadap kompetensi kepribadian dan sosial guru. Bukti fisik:hasil penilaian dengan menggunakan format penilaian yang telah disediakan dan dilampirkan dalam amplop tertutup.
Prestasi akademik, prestasi yang dicapai guru,terkait dengan bidang keahliannya dan dapat pengakuan dari lembaga/panitia penyelenggara.komponen ini meliputi: Lomba dan karya akademik( juara lomba atau penemuan karya nomenta) dan Pembimbingan teman sejawat dan/atau siswa (instruktur, guru inti, tutor, atau pembimbing kegiatan siswa) bukti fisik: foto kopi, piagam penghargaan/sertifikat, surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Karya pengembangan profesi, suatu karya yang menunjukan upaya pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru, meliputi: Buku yang dipublikasikan Artikel yang dibuat dalam media jurnal /buletin Modul/diklat yang menimal mencakup materi pembelajaran selama satu tahun Media/alat pembelajaran dalam bidangnya Laporan penelitian tindakan kelas (individu atau kelompok) dan Karya seni ( patung,rupa,tari,lukis,sastra,dll). Bukti fisik berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut dan dilegalisasikan oleh atasan.
Keikutsertaan dalam forum ilmiah, partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya,baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta.bukti fisik: foto kopi makalah, piagam/sertifikat yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, pengalaman guru menjadi pengurus organisasi kependidikan dan sosial, dan atau mendapat tugas tambahan, pengurus organisasi dibidang kependidikan antara lain PGRI, Ikatan sarjana pendidikan indonesia (ISPI) pengurus organisasi sosial ketua RT, RW, dan LMD/BPD. Mendapat tugas tambahan antara lain kepala sekolah ,ketua jurusan,dan kepala lab/bengkel studio,bukti fisik: surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.
Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan, penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/geografis) kualitatif (komitmen, etos kerja) relevasi (dalam bidang/rumpun bidang). Bukti fisik: foto kopi sertifikat/piagam/surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Sumber: http://www.lpmpjabar.go.id

STM dan Pembelajaran IPA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dengan topik pesawat sederhana dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Topik pesawat sederhana tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan masyarakat sehari-hari karena hampir semua lapisan masyarakat menggunakannya sebagai alat bantu dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Model pembelajaran ini diterapkan kepada siswa kelas lima SD Utan kayu Selatan 01 dan 03 pagi Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan baik kepala sekolah maupun guru yang mengajar di kelas lima sangat senang. Guru yang biasanya lebih sering menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dalam mengajarkan IPA menjadi lebih bersemangat dengan menerapkan pendekatan STM. Dengan membuat kliping tentang kegiatan manusia yang berkaitan dengan penggunaan pesawat sederhana sebagai alat bantu dalam kegiatannya sehari-hari dan setelah mengalami pembelajaran IPA di dalam kelas, siswa dapat mengetahui pesawat sederhana, jenis-jenis pesawat sederhana, dan bagaimana menggunakan pesawat sederhana secara benar.
Kata kunci : Pesawat sederhana, pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, model pembelajaran IPA, metode ceramah dan pemberian tugas.
1. Pendahuluan
Penguasaan Iptek merupakan kunci penting dalam abad 21 ini. Oleh karena itu, peserta didik perlu dipersiapkan untuk mengenal, memahami, dan menguasai Iptek dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya untuk mempersiapkan hal itu memang sudah dilakukan melalui pendidikan formal, sesuai dengan Undang-undang No. 2 tahun 1989. Pengantar Sains dan Teknologi pun sudah diajarkan sejak pendidikan dasar.
Persiapan sedini mungkin sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan yang secara kualitatif cenderung meningkat. Berbagai tantangan muncul, antara lain menyangkut peningkatan kualitas hidup, pemerataan hasil pembangunan, partisipasi masyarakat, dan kemampuan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Pendidikan IPA sebagai bagian dari pendidikan umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berfikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan IPA dan teknologi.
Dewasa ini, pembelajaran IPA masih didominasi ole penggunaan metode ceramah dan kegiatannya lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Guru menjelaskan IPA hanya sebatas produk dan sedikit proses. Salah satu penyebabnya adalah padatnya materi yang harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Padahal, dalam membahas IPA tidak cukup hanya menekankan pada produk, tetapi yang lebih penting adalah proses untuk membuktikan atau mendapatkan suatu teori atau hukum. Oleh karena itu, alat peraga/praktikum sebagai alat media pendidikan untuk menjelaskan IPA sangat diperlukan. Pembelajaran IPA dengan menggunakan alat peraga sangat efektif untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai limiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan YME. Tujuan IPA secara umum adalah agar siswa memahami konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memiliki keterampilan tentang alam sekitar untuk mengembangkan pengetahuan tentang proses alam sekitar, mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala alam dan mampu menggunakan teknologi sederhana untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994).
Salah satu cara untuk dapat menciptakan sumber daya manusia berkualitas, guru dalam mengajar dapat menggunakan beberapa metode dan pendekatan. Dalam hal ini, pendekatan yang paling sesuai dengan perkembangan Iptek adalah pendekatan Sains Teknologi Masyarakat ( STM ), karena pendekatan ini memungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menampilkan peranan Sains dan Teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA, guru dapat memulai dengan isu yang dikemukakan oleh siswa yang ada di masyarakat.
Dengan menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dari guru saja, karena dalam hal ini guru sebagai motivator dan fasilitator yang mengarahkan siswa agar dapat memberikan saran-saran berdasarkan hasil pengamatannya di masyarakat. Misalnya siswa dapat memberikan saran-saran kepada masyarakat tentang penggunaan pesawat sederhana secara benar.
Menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA dengan topik pesawat sederhana dimaksudkan agar siswa memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat sebagai akibat ketidaktahuan dan ketidaktepatan masyarakat dalam menggunakan pesawat sederhana. Untuk itu, siswa terjun langsung ke masyarakat untuk mencari informasi sebagai dasar untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi masyarakat.
Atas dasar inilah maka tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan suatu model pembelajaran dengan mengunakan pendekatan STM tentang konsep pesawat sederhana yang diajarkan di kelas 5 sekolah dasar berdasarkan kurikulim 1994. Melalui model ini, akan dapat dilihat selain penguasaan konsep tentang pesawat sederhana khususnya dan IPA pada umumnya serta kreativitas siswa dalam menerapkan konsep pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kajian Literatur
Penguasaan konsep merupakan penguasaan terhadap abstraksi yang memiliki satu kelas atau objek-objek kejadian atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Menurut Piaget pertumbuhan intelektual manusia terjadi karena adanya proses kontinyu yang menunjukkan equilibrium-disequilibrium, sehingga akan tercapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi (Ratna Wilis, 1989:160-164). Belajar akan menjadi efektif apabila kegiatan belajar sesuai dengan perkembangan intelektual anak. Selain itu, guru di dalam kelas perlu mengenal anak didik dan bakat khusus yang mereka milki agar dapat memberikan pengalaman pendidikan yang dibutuhkan oleh masing-masing siswa untuk dapat mengembangkan bakat mereka secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan (Conny Semiawan, AS Munandar, SCU Munandar; 1990:3).
Sikap yang terbentuk pada diri siswa terhadap mata pelajaran tentunya tergantung pada sikap gurunya terhadap mata pelajaran itu, dan bagaimana cara guru menyampaikan mata pelajaran itu. Apabila setiap mengajar guru bersikap positif dan baik, maka lambat laun siswa berada dalam kondisi belajar yang berkesan baik dan mendalam, sehingga terbentuk sikap positif terhadap mata pelajaran itu. Jika mata pelajaran tersebut adalah IPA maka akan terbentuklah sikap yang positif terhadap IPA.
Karena belajar bukan sekedar untuk memahami tentang sesuatu fakta tertentu melainkan bagaimana menginteprestasikan fakta-fakta tersebut ke dalam konteks kehidupan pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh (Suharsimi Arikunto,1995:19) bahwa sebenarnya sikap merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Menurut Wynne Harlen (1987) dalam Hendro Darmodjo dan Yenny Kaligis (1992: 7-12), ada 9 aspek sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD yaitu: (1) sikap ingin tahu (curiousity); (2) sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru (originality) (3) sikap kerja sama (cooperation), (4) sikap tidak putus asa (perseverense), (5) sikap tidak berprasangka (open mendidness), (6) sikap mawas diri (self criticism), (7) sikap bertanggung jawab (responsibility), (8) sikap berpikir bebas (independence in thinking), dan (9) sikap kedisiplinan diri (self discipline).
Kreativitas sebagai suatu proses memberikan berbagai gagasan dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, sebagai proses bermain dengan gagasan-gagasan atau unsur-unsur dalam pikiran merupakan keasyikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi siswa kreatif. Kreativitas dalam hal ini merupakan proses berfikir di mana siswa berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan baru. Mendapatkan jawaban metode atau cara baru dalam memecahkan suatu masalah. Bagi pendidikan, yang terpenting bukanlah apa yang dihasilkan dari proses tersebut, tetapi keasyikan dan kesenangan siswa terlibat dalam proses tersebut. Proses bersibuk diri secara kreatif perlu juga mendapatkan penghargaan dari pendidik. Guru tidak perlu selalu mengharapkan produk-produk yang berguna dari kegiatan kreativitasnya, yang perlu dirangsang dan dipupuk adalah sikap dan minat untuk melibatkan diri dalam kegiatan kreatif. Gordon dan M. D. Dahlan (1990) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kegiatan sehari-hari dan berlangsung seumur hidup dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), Ekspresi kreatif (creative expression) empati, insight dalam hubungan sosial dan ide-ide yang bermakna dapat meningkatkan aktivitas kreatif melalui bantuan daya pikir yang lebih kaya.
Pendidikan sains dengan menggunakan pendekatan STM adalah suatu bentuk pengajaran yang tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep sains saja tetapi juga menekankan pada peran sains dan teknologi di dalam berbagai kehidupan masyarakat dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, Hidayat (1996: 16) dan Poedjiadi (1994: 9) berpendapat sama bahwa belajar IPA melalui isu-isu sosial di masyarakat yang ada kaitannya dengan IPA dan Teknologi dirasakan lebih dekat, dan belajar IPA melalui isu-isu sosial di masyarkat yang ada kaitannya dengan IPA dan teknologi dirasakan lebih punya arti bila dibandingkan dengan konsep-konsep dan teori IPA itu sendiri.
Selanjutnya, Poedjiadi (1994: 9) menyatakan bahwa pendekatan STM menitikberatkan pada penyelesaian masalah dan proses berpikir yang melibatkan transfer jarak jauh. Artinya, menerapkan konsep-konsep yang diperoleh di sekolah pada situasi di luar sekolah yaitu yang ada di masyarakat, misalnya pesawat sederhana, merupakan alat bantu yang dapat memudahkan manusia dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari di masyarakat. Strateginya adalah dengan cara memecahkan masalah isu sosial. Pembelajaran dengan menggunakan pedekatan STM memiliki ciri yang paling utama, yang dilakukan dengan memunculkan isu sosial di awal pembelajaran dan guru sebelumnya sudah memiliki isu yang sesuai dengan konsep yang akan diajarkan. Adalah suatu kekeliruan apabila seorang guru mengajarkan IPA dengan cara mentransfer saja apa–apa yang disebut di dalam buku teks kepada anak-anak didiknya. Hal ini disebabkan apa yang tersurat di dalam buku teks itu baru merupakan satu sisi atau satu dimensi saja dari IPA yaitu dimensi produk. Buku teks merupakan body of knowledge dari IPA, akumulasi hasil upaya para perintis yang terdahulu; tetapi, sisi lain dari IPA yang tidak kalah pentingnya adalah dimensi proses; maksudnya, proses mendapatkan ilmu itu sendiri. IPA diperoleh melalui penelitian dengan menggunakan langkah-langkah tertentu yang disebut metode ilmiah. Secara umum, sekolah dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap, kemampuan, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk siap dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Dengan pengajaran IPA, diharapkan siswa akan memahami alam sekitarnya yang meliputi benda-benda alam dan buatan manusia serta konsep-konsep IPA yang terkandung di dalamnya. Harapan berikutnya adalah siswa memiliki keterampilan untuk mendapatkan ilmu berupa keterampilan proses atau metode ilmiah yang sederhana, memiliki sikap ilmiah di dalam menentukan apa yang perlu dilakukan terhadap suatu masalah. Para siswa yang mengalami pengajaran IPA dengan pendekatan STM akan tampak berbeda dari siswa yang mengalami pengajaran IPA secara tradisional. Pada pengajaran dengan pendekatan STM, siswa melihat proses sains sebagai keterampilan yang dapat mereka gunakan, menjadi lebih ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini, memandang guru sebagai fasilitator/penuntun, dan lebih banyak bertanya di mana pertanyaan itu digunakan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan dan materi STM, terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatan dan penuh dengan ide-ide murni. (Eddy Hidayat, 1996: 14).
Anak usia SD adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional, maupun pertumbuhan badaniah. Adalah suatu kenyataan bahwa kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut adalah tidak sama. Ada yang pertumbuhan badannya lebih cepat. Demikian situasinya sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Inilah suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak SD walaupun mereka dalam usia yang sama. Hal inilah yang harus diperhitungkan dan dicermati oleh guru untuk memulai pembelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami tingkat perkembangan intelektual anak.
Belajar bukan hanya sekedar mengingat, melainkan lebih luas dari itu yakni mengalami dan hasil belajar bukan hanya penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Sedangkan mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan yang dimaksud terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi, seperti tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa sebagai obyek yang akan berperan serta dalam jalinan hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, dan sarana prasarana belajar yang tersedia. Komponen-komponen itulah yang saling berinteraksi sebagai suatu sistem, dan saling pengaruh mempengaruhi. Karenanya, setiap peristiwa mengajar memiliki profil yang unik. Setiap profil sistem lingkungan pun mencapai volume hasil yang berbeda atau untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus diciptakan sistem lingkungan belajar tertentu pula.
Penelitian mengenai pendekatan STM yang dilakukan oleh Hairida (1996) menyebutkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan STM dapat meningkatkan penguasaan konsep dan sikap siswa untuk materi-materi yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Rata-rata siswa pada kelas eksperimen bersikap positif terhadap pembelajaran dengan menggunakan STM.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh I Made Alit (1993) ditemukan bahwa siswa yang diajar melalui pendekatan STM pengaruhnya lebih beragam (efek iringan dan keterampilan proses sains) dari pada pendekatan biasa (ceramah diselengi dengan tanya jawab dan diskusi). Efek iringan tersebut berupa memiliki sikap toleran terhadap pandangan yang berbeda dengan pendapatnya sendiri, sadar akan dampak positif dan negatif terhadap suatu teknologi, menyadari adanya nilai yang dianut dalam masyarakat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sesuai. Pada soal-soal berbentuk objektif, siswa yang diajar melalui pendekatan biasa memiliki penguasaan konsep yang lebih baik dari pada kelas STM. Tampaklah bahwa pendidikan sains dengan pendekatan STM akan memberikan keuntungan nyata kepada siswa yang ingin meningkatkan literasi sains, yang mempunyai perhatian terhadap sains dan teknologi serta perhatian terhadap interaksi antara Sains Tekologi dan Masyarakat. Pemahaman yang lebih baik dalam sains dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, bernalar logis, dan memecahkan masalah secara kreatif.
3. Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan desain kelompok tunggal dengan tes awal dan tes akhir. Pelaksanaan eksperimental dilakukan dengan memberi perlakuan (X) terhadap satu kelompok eksperimen. Sebelum diberi perlakuan, kelompok tersebut diberi pre tes (T1) dan postes (T2). Hasil kedua tes tersebut di bandingkan untuk menguji apakah perlakuan memberi pengaruh (H. Muhammad Ali, 141).
Desain kelompok tunggal digambarkan sebagai berikut :
Pretes Perlakuan Postes
T1 X T2
Pada kelompok eksperimen ini diterapkan model pembelajaran dengan pendekatan STM.
Sekolah yang menjadi sampel penelitian adalah sekolah yang tidak memiliki kelas paralel dan letaknya jauh dari keramaian kota serta jarak antara dua sekolah tadi berdekatan dalam satu komplek (halaman). Respndennya adalah siswa kelas V dari dua sekolah yang berbeda yaitu kelas dari SDN 03 Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, dengan jumlah 39 siswa dan SDN 01 Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, dengan jumlah siswa 35 anak.
Pengambilan sampel penelitian dari sekolah dasar yang berbeda dimaksudkan agar informasi yang diperoleh dapat lebih banyak dan jumlah guru yang mengajar dengan pendekatan STM tidak hanya satu orang saja.
Data diperoleh berdasarkan observasi saat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dengan tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
(1) Tahap apersepsi (inisisasi, invitasi, dan ekplorasi) yang mengemukakan isu/masalah aktual yang ada di masyarakat dan dapat diamati oleh siswa.
(2) Tahap pembentukan konsep, yaitu siswa membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui observasi, eksperimentasi, dan diskusi.
(3) Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah yaitu menganalisis isu atau masalah yang telah dikemukakan di awal pembelajaran berdasarkan konsep yang telah dipahami sebelumnya.
(4) Tahap pemantapan konsep, di mana guru memberikan pemantapan konsep agar tidak terjadi kesalahan konsep pada siswa.
(5) Tahap evaluasi penggunaan tes untuk mengetahui penguasaan konsep.
4. Hasil dan Pembahasan
Hasil pretes dan postes tentang konsep pesawat sederhana dan dalam pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan STM dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan dapat mengubah sikap para siswa menjadi lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan STM dapat menimbulkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan, khususnya permasalahan yang terjadi di masyarakat, sehingga mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan bukti dan pemikiran yang rasional. Kreativitas siswa sebelum pembelajaran dilakukan dengan membuat kliping tentang penggunaan pesawat sederhana oleh masyarakat untuk membantu aktivitasnya sehari-hari. Selama pembelajaran berlangsung, kreativitas dapat dilihat pada saat: (a) pelaksanaan praktikum menjawab LKS, (b) setelah siswa membuat rancangan alat sederhana yang akan dibuat, (c) proses pembuatan alat sederhana, dan (d) siswa mempresentasi alat sederhana.
Terdapat perbedaan sikap yang signifikan dalam penguasaan siswa SD tentang konsep pesawat sederhana dan kreativitas yang dilakukan pada saat merancang dan membuat alat pesawat sederhana antara sebelum (pretes) dan sesudah (postes) dengan menggunakan pendekatan STM. Dengan kata lain, tingginya kamampuan dalam memahami konsep dan tingginya kreativitas dalam merancang dan membuat alat dibarengi dengan sikap positif terhadap IPA khususnya pesawat sederhana.
Hal ini terjadi karena model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat memotivasi siswa untuk lebih kreatif mengemukakan isu-isu dan permasalahan yang tejadi di masyarakat baik itu isu sosial ataupun isu teknologi. Selain itu, ide atau pendapat siswa secara perorangan maupun kelompok sangat dihargai dan semua siswa terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
Dengan mengikuti kegiatan ilmiah yang dilakukan dalam pembelajaran dengan pendekatan STM, siswa menyadari adanya suatu masalah dan mempunyai keinginan untuk memecahkan masalah, serta kemudian menyimpulkan fakta-fakta yang ada hubungannya dengan masalah yang terjadi melalui pengamatan. Untuk melatih siswa agar memiliki kreativitas yang tinggi dalam pendekatan STM di dalam semua kegiatan perlu dilakukan aktivitas yang optimal dari semua siswa.
5. Simpulan dan Saran
Pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan penguasaan konsep pesawat sederhana yang telah dibuktikan dengan nilai tes akhir (postes). Pada mulanya siswa mengetahui bahwa pesawat sederhana adalah pesawat terbang dan kendaraan beroda empat. Setelah pembelajaran dengan pendekatan STM siswa dapat menyebutkan arti, jenis, dan cara menggunakan pesawat sederhana dengan benar.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan sikap siswa yang semula kurang baik menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap kegiatan masyarakat sehari-hari seperti: (a) tukang minuman yang sedang membuka tutup botol, (b) ayah yang sedang mencabut paku di dinding, (c) tukang minyak tanah yang sedang memindahkan drum besar dari bawah ka atas truk, dan (d) paman yang sedang memindahkan lemari yang besar dari ruang tamu ke dalam kamar.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan kreativitas siswa yang semula hanya dapat mengumpulkan satu jenis pesawat sederhana sampai kemudian dapat menganalisis kegiatan masyarakat yang menggunakan pesawat sederhana dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, siswa juga dapat menggambarkan dan merancang salah satu contoh alat dari jenis pesawat sederhana serta sekaligus membuatnya dan berusaha untuk membuat jenis pesawat sederhana lainnya.
6. Saran
Pendekatan STM dalam pembelajaran IPA perlu mendapat perhatian dan tanggapan yang serius dari guru karena melalui pendekatan ini siswa dapat memperluas dan memperdalam pemahaman tentang Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya sekedar pemahaman konsepnya. Dengan demikian, upaya meningkatkan pengembangan literasi sains (science literacy) dan teknologi siswa dicapai dengan mudah.
Berkaitan dengan materi, tidak semua materi IPA dapat dilaksanakan dengan mengunakan STM. Materi yang akan diajarkan dengan pendekatan STM ini harus benar-benar diplih dan disesuaikan dengan kekhasan dari pendekatan STM dan isu yang terjadi di masyarakat.
Dalam mempersiapkan pembelajaran dengan pendekatan STM, selain materi yang akan diajarkan harus disesuaikan dengan kekhasan pendekatan STM, juga kondisi lingkungannya perlu diperhatikan sehingga proses pembelajaran tidak asing dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Pustaka Acuan
Arikunto S. 1995. Dasar–dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdikbud. 1994. Lampiran II Kepustakaan Depdikbud RI Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta
Eddy M Hidayat. 1996. Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: makalah PPS IKIP
Hairida. 1996. Pengajaran Konsep Zat Aditif dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Tesis PPS IKIP.
Hendro Darmodjo, Kaligis, Yenny. 1991/1992. Pendidikan IPA II hal 7-11, Depdikbud Dirjen DIKTI, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
I Made Alit. 1993. Implikasi an Pendekatan Science Technolgy Society terhadap efek iringan. Bandung: Tesis PPS IKIP.
Mundandar, SCU, Munandar As, Conny Semiawan. 1990. Memupuk Bakat Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia
Muhammad Djawad Dahlan, 1990, Model – model mengajar. Bandung: Diponegoro.
Poedjiadi. 1993. Mewujudkan Literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan. Hal 4,5,6 Disampaikan pada Seminar FPMIPA IKIP Bandung
Poedjiadi. 1994. Konsep STS Dan Pengembangannya berdasarkan Kurikulum sekolah. Hal. 7,8,9, disampaikan pada seminar PPPG IPA Bandung
Ratna Wilis Dahar, 1989, Teori – teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

dikutip dari: http://www.duniaguru.com