Google

Selasa, April 01, 2008

HASIL SELEKSI PRA OLIMPIADE MIPA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2008

LIA DAN APRIZA TEMBUS 60 BESAR PRA OLIMPIADE MIPA TINGKAT KOTA BANDARLAMPUNG

Lia Stiani Hermawan dan Apriza Trilia siswi kelas 8 SMP Kartika II-2 Bandarlampung berhasil menembus 60 besar Pra Olimpiade MIPA tingkat Kota Bandarlampung yang diadakan oleh MKKS SMP Kota Bandarlampung tanggal 29 Maret 2008 di SMP Negeri 16 Bandarlampung. Dengan masuk 60 besar, maka keduanya berhak mengikuti tahapan selanjutnya yaitu Eliminasi I yang akan diadakan pada tanggal 2 Mei 2008 di tempat yang sama.

Dalam kegiatan Pra Olimpiade MIPA tersebut, SMP Kartika II-2 Bandarlampung mengirimkan 9 peserta yaitu:

Olimpiade Matematika

1.

Ersalina Amalia Solikhah

Kelas 8B

2.

Yudha Agung Permana

Kelas 8B

3.

Fauzia Mariani

Kelas 8C

Olimpiade Fisika

1.

Apriza Trilia

Kelas 8D

2.

Annisa Umi Kalsum

Kelas 8B

3.

Riska Afrianita

Kelas 8B

Olimpiade Biologi

1.

Lia Stiani Hermawan

Kelas 8B

2.

Devi Julia

Kelas 8A

3.

Chairunnisa

Kelas 8C

Namun, dari 150-an peserta untuk tiap-tiap cabang lomba yang mampu menembus 60 besar hanya Lia Stiani Hermawan dan Apriza Trilia.

Kepada kami mereka mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan : ”Alhamdulillah kami sangat senang sekali mampu menembus 60 besar, sebetulnya kami tidak mengira dapat menembus level tersebut, dikarenakan persaingan sangat ketat antar peserta. Kami mengharapkan do’a restu dan dukungan seluruh pihak agar kami mampu lolos dalam seleksi berikutnya.”

Pihak Sekolah melalui Bapak Drs. Mudjijana selaku Kepala Sekolah pun berharap kepada para pembimbing (Bpk Asuro, S.Pd dan Ibu Retno Dwi Astuti, S.Pd) dapat meningkatkan lagi pembinaannya sehingga mampu meloloskan siswa tersebut dan syukur alhamdulillah mampu menjadi yang terbaik.

Rabu, Maret 12, 2008

STAD untuk Pembelajaran IPA

STAD untuk Pembelajaran IPA PDF Print
Oleh Perdy Karuru
Thursday, 11 January 2007
Abstrak : Salah satu upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di kelas adalah dengan mengembangkan perangkat pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk menemukan perangkat yang digunakan di SLTP. Penerapan perangkat ini dilakukan oleh guru mitra yang telah dilatih melalui praktek pemodelan.


Dari hasil penelitian ini diperoleh beberapa temuan antara lain guru dalam mengelola pembelajaran cukup baik, dan dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran, guru mampu melatihkan keterampilan proses dengan baik, mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered, serta dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa. Hasil belajar yang diajar dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dibanding pembelajaran yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif.

Kata Kunci: Pendekatan keterampilan proses (PKP), Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division), perangkat pembelajaran, kualitas belajar.


1. Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan alam (IPA) telah melaju dengan pesatnya. Hal ini erat hubungannya dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi memberikan wahana yang memungkinkan IPA berkembang dengan pesat. Perkembangan IPA yang begitu pesat, menggugah para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada penguasaan konsep IPA, yang dapat menunjang kegiatan sehari-hari dalam masyarakat. Untuk dapat menyesuaikan perkembangan IPA kreatifitas sumber daya manusia merupakan syarat mutlak ditingkatkan. Jalur yang tepat untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui jalur pendidikan.

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan khususnya ilmu pengetahuan alam arah perkembangannya tidak terlepas dari Kurikulum SLTP 1994, yang bertujuan meningkatkan keterampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep IPA dan menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah dan menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.

Perkembangan IPA tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja (produk ilmiah) tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Jadi, proses atau keterampilan proses atau metode ilmiah itu merupakan bagian dari IPA khususnya bidang studi IPA-Fisika. Selama siswa menggunakan sikap ilmiah, maka IPA merupakan pengetahuan yang dinamis tidak statis baik dalam teori maupun dalam praktek. IPA bukan sekedar pengetahuan, tetapi IPA adalah human enterprise yang melibatkan operasi mental, keterampilan, dan strategi, yang dirancang manusia untuk menemukan hakikat jagad raya.

Menurut kurikulum SLTP 1994, pendekatan IPA adalah pendekatan keterampilan proses yang menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya. Hal ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA di SLTP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih menekankan pada prinsip-prinsip belajar dari teori kognitif. Namun kenyataan di lapangan proses belajar mengajar masih didominasi metode konvensional.

Hal ini sejalan dengan pengamatan Sukabdiyah (1999:3) bahwa di sekolah sebagian guru IPA di SLTP yang pernah ikut PKG kembali lagi ke metode konvensional dengan berbagai alasan, akibatnya banyak kegagalan yang dialami siswa. Lebih jauh, Sukabdiyah menjelaskan hasil pengamatannya bahwa nilai EBTANAS Murni pada mata pelajaran IPA siswa SLTP Negeri-Swasta Jakarta Barat tahun ajaran 1999/2000, dari 25.473 siswa yang ikut ujian jumlah siswa yang memperoleh kualifikasi D dengan NEM 4,51 - 5,50 adalah 10.123 siswa atau 40%, dan kualifikasi E dengan NEM <>slow learner, mereka mungkin tidak mendapatkan pelajaran IPA yang sesuai.

Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses IPA, para guru sebaiknya membuat rencana pembelajaran untuk satu cawu. Dalam perencana ini ditentukan semua konsep-konsep yang dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses IPA yang akan dikembangkan. Gagne dalam Dahar (1986:18) menyebutkan bahwa dengan mengembangkan keterampilan IPA anak akan dibuat kreatif, ia akan mampu mempelajari IPA di tingkat yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat.

Dengan menggunakan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. Seluruh irama, gerak atau tindakan dalam proses belajar mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi belajar yang melibatkan siswa secara aktif. Agar keterampilan proses yang dikembangkan dapat berjalan, siswa perlu dilatih keterampilan proses tersebut sebelum pendekatan keterampilan proses itu dapat dilaksanakan. Menurut Nur (1996:10) pendekatan keterampilan proses dapat berjalan bila siswa telah memiliki keterampilan proses yang diperlukan untuk satuan pelajaran tertentu.

Menurut Kurikulum SLTP 1994, pendekatan adalah pendekatan keterampilan proses yang menekankan pada keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya. Hal ini berarti proses belajar mengajar di SLTP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih menekankan pada penerapan prinsip-prinsip belajar dari teori kognitif. Implikasi teori belajar kognitif dalam pengajaran IPA adalah memusatkan kepada berpikir atau proses mental anak, dan tidak sekedar kepada hasilnya. Relevansi dari teori konstruktivis, siswa secara aktif membangun pengetahuan sendiri. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivis adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dicirikan oleh suatu struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa bekerja sama dalam situasi semangat pembelajaran kooperatif seperti membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dan mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas.

Menurut Vygotsky, implikasi utama dalam pembelajaran menghendaki seting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif, dengan siswa berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif pada masing-masing zona perkembangan terdekat mereka. Selain itu pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat membantu siswa memahami konsep-konsep IPA yang sulit serta menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis, dan mengembangkan sikap sosial siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa yang rendah hasil belajarnya dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama.

Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan-keterampilan kooperatif sebelum pembelajaran kooperatif itu digunakan. Hal ini dilakukan agar siswa telah memiliki keterampilan yang diperlukan untuk satuan pembelajaran tertentu. Keterampilan kooperatif yang dilatih seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan/menanggapi, menyampaikan ide/pendapat, mendengarkan secara aktif, berada dalam tugas, dan sebagainya.

Agar tujuan pembelajaran mencapai sasaran dengan baik seperti yang tercantum dalam kurikulum, selain digunakan model pembelajaran yang sesuai, perlu adanya perangkat pembelajaran yang sesuai pula. Perangkat yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran yang dicancang oleh peneliti yang memuat informasi berharga yang dibutuhkan guru, khususnya berbagai macam strategi dan metode serta sumber belajar yang ditempatkan pada halaman samping sehingga sangat mudah dilihat dan mudah dipahami. Keunggulan perangkat dalam penelitian ini dibandingkan dengan perangkat pembelajaran yang digunakan di sekolah selama ini khususnya di SLTP Ciputra Surabaya adalah kebutuhan siswa yang dimiliki tingkat kemampuan yang berbeda dapat ditangani. Untuk memenuhi kebutuhan seperti itu perangkat ini dilengkapi dengan alternatif strategi pengajaran, berupa buku panduan untuk seluruh siswa, buku guru, LKS (lembar kegiatan siswa), penguatan untuk siswa dengan kemampuan rata-rata, dan pengayaan untuk siswa di atas rata-rata.

2. Kajian Literatur

2. 1 Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif

Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya (Slavin, 1995).

Menurut Thomson, et al (1995), pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran IPA. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku (Thomson, 1995). Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995).

Perlu ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta menjelaskan jawabannya di lembar kerja siswa (LKS). Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakan jawabannya kepada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok, guru berkeliling di antara anggota kelompok, memberikan pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja. Pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa menverbalisasi gagasan-gagasan dan dapat mendorong munculnya refleksi yang mengarah pada konsep-konsep secara aktif (Thomson et al. 1995).

Pada saatnya, kepada siswa diberikan evaluasi dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tes yang diberikan. Diusahakan agar siswa tidak bekerjasama pada saat mengikuti evaluasi, pada saat ini mereka harus menunjukkan apa yang mereka pelajari sebagai individu.

2.2 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat 6 fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997:113). Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa untu belajar. Fase ini diikuti siswa dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal. Selanjutnya siswa dikelompokan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerjasama menyelesaikan tugas mereka. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif yaitu penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari, serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Keenam fase pembelajaran kooperatif dirangkum pada Tabel 1 berikut ini.


Image

2.3 Keterampilan-keterampilan dalam Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membagi tugas anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain sebagai sebagai berikut (Lundgren, 1994).


2.3.1 Keterampilan Tingkat Awal

(1) Menggunakan Kesepakatan

Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan kerja dalam kelompok.

(2) Menghargai kontribusi

Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan orang lain. Hal ini berarti bahwa harus selalu setuju dengan anggota lain, dapat saja dikritik yang diberikan itu ditunjukkan terhadap ide dan tidak individu.

(3) Mengambil giliran dan berbagai tugas.

Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

(4) Berada dalam kelompok.

Makasud di sini adalah setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung

(5) Berada dalam tugas.

Artinya bahwa meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

(6) Mendorong partisipasi.

Mendorong partisipasi artinya mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

(7) Mengundang orang lain

(8) Menyelesaikan tugas pada waktunya.

(9) Menghormati perbedaan individu

2.3.2. Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidak setujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir, serta mengurangi ketegangan.

2.3.3 Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

2.4 Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen.

Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demoksari dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menetapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembetukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Agar pelajaran dengan pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pelajaran yang lengkap harus tersedia di ruang guru atau di perpustakaan atau di pusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional yang berhubungan dengan kerja kelompok secara hati-hati mengelola tingkah laku siswa.


3. Metode Penelitian

Sesuai dengan tujuan umum penelitian ini, yaitu mengembangkan perangkat pembelajaran IPA Fisika di SLTP yang berorientasi pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD, maka penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian pengembangan dan penelitian tindakan. Selain itu penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana meningkatkan kualitas belajar IPA siswa SLTP dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD, maka penelitian ini merupakan penelitian eksperimen.

Dalam proses pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD digunakan Four-D Model yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974:5) yang terdiri dari empat tahap yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran. Namun dalam penelitian ini pengembangan perangkat pembelajaran hanya sampai pada tahap pengembangan, karena perangkat yang digunakan belum disebarkan ke sekolah-sekolah yang lain artinya perangkat tersebut digunakan pada sekolah uji coba. Keempat tahap tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Image

Gambar 1. Diagram Alir Rancangan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Sedangkan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran digunakan rancangan penelitian tindakan yaitu rencana tindakan observasi-refleksi.

Image

Gambar 2. Siklus Rancangan Penelitian Tindakan

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SLTP Ciputra Surabaya sebanyak 66 orang siswa. Untuk menentukan kelas uji coba dan kelas eksperimen, digunakan sampling random sederhana, sehingga diperoleh kelas IIA sebagai kelas eksperimen, kelas IIC sebagai kelas kontrol dan kelas II B sebagai kelas uji coba. Kelas uji coba digunakan untuk menyempurnakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan, dan diajar dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga layak digunakan pada uji coba selanjutnya (uji coba 2). Sedangkan kelas eksperimen dan kelas kontrol diajar dengan menggunakan perangkat pembelajaran dan guru yang sama, tetapi pembelajaran yang digunakan berbeda yakni kelas eksperimen diajar dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD sedangkan kelas kontrol diajar bukan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat dan metode pengumpulan data, yaitu tes (THB produk, THB Proses, dan THB Psikomotor), observasi, dan angket. Instrumen pengambil data dipergunakan untuk pengambilan data, dari variabel-variabel yang akan diukur.

Tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa setelah diberikan perlakuan. Angket ditujukkan pada siswa, untuk melihat pendapatnya terhadap materi pelajaran, buku siswa, lembar kerja siswa, suasana belajar di kelas, dan cara penyajian materi oleh guru dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD, serta untuk mengetahui minat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar berikutnya dengan pembelajaran ini. Selain itu angket juga dimaksudkan untuk mengetahui baru tidaknya keterampilan-keterampilan kooperatif dan keterampilan proses yang dilatihkan serta senang tidaknya terhadap keterampilan-keterampilan tersebut.

Untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelola kelas, dan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran serta kemampuan guru dalam melatihkan keterampilan proses digunakan lembar obsevasi yang dikembengkan sendiri oleh peneliti.

Untuk menganalisis data lapangan digunakan teknik interobserver agreement yaitu menghitung reliabilitas instrumen pengamatan, dan sensitivitas butir soal. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan analisis kovarians (ANAKOVA). Yang menjadi variabel manipulasi (X) adalah belajar dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dan variabel respon (Y) adalah hasil belajar siswa, yang melibatkan satu variabel penyerta (covariat) yaitu kemampuan awal siswa.

4. Hasil dan Pembahasan

4.1 Analisis Deskriptif

Dalam analisis deskriptif ini, yang dibahas adalah data kelas eksperimen dan tidak dibandingkan dengan kelas kontrol karena pembelajaran di kelas kontrol tidak diamati, kecuali data tes hasil belajar produk. Data tes hasil belajar produk selain dianalisis dengan statistik deskriptif, juga dianalisis dengan statistik inferensial untuk melihat ada tidaknya perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.


4.1.1 Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini antara lain Buku Guru, Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), APRP, dan RP. Selain itu, peneliti juga mengembangkan instrumen penelitian yaitu lembar pengamatan, tes, dan angket.


4.1.2 Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Dari hasil perhitungan statistik deskriptif diketahui bahwa skor rata-rata untuk masing-masing kategori pengamatan yang meliputi persiapan sebesar 3,75, pendahuluan 3,42, kegiatan inti 3,29, penutup 3,06, pengelolaan waktu 3,38, dan suasana kelas sebesar 3,51. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa secara umum guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah cukup baik. Guru mampu menyiapkan alat/bahan yang digunakan dalam pembelajaran, serta mampu melatihkan keterampilan proses dan keterampilan kooperatif dan mengoperasikan perangkat pembelajaran dengan alokasi waktu yang sesuai, bahkan guru dapat membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran.


4.1.3 Aktivitas Guru dan Siswa

Hasil analisis data penelitian tentang aktivitas guru dan siswa, guru selama kegiatan inti dalam menjelaskan materi/menyampaikan informasi sebesar 14.55%, mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar kooperatif 8.90%, membimbing siswa mengerjakan LKS dengan benar 28.41%, mendorong dan melatihkan keterampilan kooperatif 14.55%. Dengan demikian sebagian besar waktu yang digunakan guru selama kegiatan belajar mengajar, membimbing siswa mengerjakan LKS, dan melatihkan keterampilan proses. Hal ini sesuai dengan skenario pembelajaran kooperatif tipe STAD yang menekankan pada kerjasama untuk mengembangkan keterampilan kognitif yang melibatkan keterampilan penalaran dan fisik seseorang untuk membangun suatu gagasan/pengetahuan baru atau menyempurnakan penggetahuan yang sudah terbentuk untuk mencapai tujuan bersama.

Sedangkan aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru 11,61%, membaca buku siswa, LKS (termasuk menulis) 10,51%, mengerjakan LKS dengan benar 28,73%, berlatih melakukan keterampilan kooperatif sebesar 14,61%, berlatih melakukan keterampilan proses 21,22%, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok sebesar 13,31%. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar waktu yang digunakan siswa selama kegiatan belajar mengajar adalah mengerjakan LKS, dan berlatih melakukan keterampilan proses.

Bila dilihat dari angka aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar, maka secara keseluruhan aktivitas guru dan siswa menunjukkan pembelajaran yang berorientasi pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD berpusat pada siswa, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari persentase aktivitas siswa yang selain mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru cukup tinggi yaitu 88.4%.


4.1.4 Kemampuan Guru Dalam Melatihkan Keterampilan Proses

Hasil penilaian kemampuan guru dalam melatihkan keterampilan proses untuk 4 kali pertemuan (4 RP) skor rata-rata tiap aspek adalah meramalkan 3,5, membuat peta konsep 3,00, merumuskan hipotesis 3,50, mengkomunikasikan 3,38, dengan rentang penillaian 1 – 4. Data ini menunjukkan bahwa guru menguasai dan terampil dalam melatihkan setiap komponen keterampilan proses yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk pokok bahasan listik statis


4.1.5 Tes Hasil Belajar

(1) Tes Hasil Belajar Produk

Jumlah soal yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah 22 nomor yang terdiri dari 16 soal pilihan ganda dan 6 soal uraian dengan skor tiap nomor soal 0 - 1. Soal tersebut diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebanyak dua kali yaitu uji awal (U1) dan uji akhir (U2) yang diikuti 23 siswa untuk kelas eksperimen dan 21 siswa untuk kelas kontrol. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rata-rata proporsi uji awal dan uji akhir eksperimen adalah 0,47 dan 0,86. Hal ini terjadi peningkatan proporsi jawaban benar siswa sebesar 0,39. Sedangkan rata-rata proporsi jawaban siswa untuk kelas kontrol adalah 0,47 dan 0,68. Jadi terdapat peningkatan jawaban benar siswa untuk kelas kontrol sebesar 0,21. Data ini menunjukkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa dari pada pembelajaran yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.


(2) Tes Hasil Belajar Proses

Tes hasil belajar proses yang dikembangkan dalam penelitian ini sebanyak 7 soal yang semuanya dalam bentuk subjektif. Tes tes tersebut diberikan dua kali yaitu uji awal (U1) dan uji akhir (U2) yang diikuti 23 orang siswa dan hanya diberikan pada kelas eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data tes hasil belajar proses diperoleh bahwa proporsi jawaban benar siswa mengalami peningkatan sebesar 0,63 yaitu dari 0,25 menjadi 0,88.


(3) Tes Hasil Belajar Psikomotor

Pada ranah pembelajaran yang mengukur psikomotor, diperoleh petunjuk bahwa guru mampu mencapai ketuntasan belajar secara klasikal pada bahan kajian listrik statis. Pada pertemuan 1 dan 2, selama pembelajaran siswa dilatih cara mengoperasikan elektroskop dan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan pengamatan. Setelah melakukan latihan cara mengoperasikan elektroskop tampak adanya peningkatan yang tajam pada rata-rata proporsi siswa yang terampil mengoperasikan elektroskop yang dilatihkan tersebut.

Pada uji akhir tes kinerja psikomotor rata-rata proporsi siswa mengoperasikan elektroskop adalah 96 %. Dengan demikian terdapat peningkatan proporsi jawaban siswa dari 0,21 menjadi 0,96.


4.1.6 Respon Siswa Terhadap KBM

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa 80% siswa senang terhadap keterampilan kooperatif, dan 75,5% berpendapat bahwa perangkat yang digunakan baru. Selain itu respon siswa tentang keterampilan proses, 82,6% senang dan 72,2% berpendapat baru mengenai keterampilan proses yang digunakan. Data ini menunjukkan bahwa siswa senang mengikuti pembelajaran jika pembelajaran menggunakan keterampilan kooperatif dan keterampilan proses, khususnya pada komponen keterampilan proses melakukan pengamatan dimana pendapat siswa senang dalam melakukan pengamatan sebesar 95,7%.

4.2 Analisis Inferensial

Data hasil belajar produk kelas eksperimen dan kelas kontrol secara rinci dapat disajikan dalam Tabel 2 berikut.
Image

Dari Tabel 2 di atas, diperoleh F* = 43,86; jika dibandingkan dengan F0,95(1,42) pada taraf signifikan a = 0,05 diperoleh F* > F0,95(1,42), sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak H1 diterima, artinya ada perbedaan hasil belajar produk antara siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang diajar tidak menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Persamaan garis regresi linier untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah sejajar atau gradien kedua garis adalah homogen, karena nilai F* yang diperoleh dari uji kesejajaran adalah 3,38, dan F0,95(1,40) = 4,08, maka F* <>0,95(1,40) sehingga H0 ditolak artinya kedua model regresi linier dalam tes hasil belajar produk untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah sejajar.

Koefesien arah (koefesien b) regresi linier menyatakan perubahan rata-rata variabel Y untuk setiap perubahan variabel X. Perubahan ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Dari persamaan regresi untuk kelas kontrol diperoleh Ý = 35,8891 + 0,629X, dengan demikian b = 0,629 berarti untuk setiap X (uji awal) bertambah dengan nilai satu, rata-rata nilai Y bertambah dengan 0,629. Sedangkan persamaan regresi linier untuk kelas eksperimen diperoleh Ý = 33,7017 + 1,1243X. Persamaan ini menunjukkan bahwa nilai b = 1,1243, sehingga untuk setiap X bertambah nilai satu unit, rata nilai Y bertambah dengan 1,1243. Hal ini berarti bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik jika dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD ditinjau dari hasil belajar siswa.

5. Simpulan

Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1) Prototipe perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah Buku Siswa, Buku Guru, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Acuan Penyusunan Rencana Pembelajaran (APRP), Rencana Pembelajaran (RP), dan Lembar Evaluasi.

(2) Guru mampu mengelola pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan baik, dan mampu melatihkan dan mengoperasikan dengan baik perangkat pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan, serta membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran.

(a) Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.

(b) Guru mampu menguasai dan terampil dalam melatihkan keterampilan proses yang digunakan dalam pembelajaran.

(c) Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa serta sebagian tujuan pembelajaran khusus yang dirumuskan tuntas.

(d) Respon siswa terhadap komponen kegiatan belajar mengajar yaitu berminat mengikuti pembelajaran berikutnya jika digunakan pembelajaran yang berorientasi pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD.

(f) Hasil belajar siswa yang diajar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari pada siswa yang diajar tidak menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

6. Saran

(1) Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.

(2) Guru perlu menambah wawasannya tentang teori belajar dan model-model pembelajaran yang inovatif.

(3) Oleh karena perangkat yang dikembangkan dalam penelitian ini efektif digunakan dalam mengajarkan pokok bahasan listrik statis, maka disarankan agar juga dikembangkan bagi sekolah-sekolah lainnya khususnya bagi sekolah-sekolah yang rendah kualitasnya.

(4) Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.



Pustaka Acuan

Amien, M. 1987. Pendidikan Science. Yogyakarta: FKIE IKIP.

Arends, R. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw-Hill Companies.

Borich, G.D. 1994. Observation Skills for Effective Teaching. New York: Mcmillan Publishing Company.

Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science. New York: Mcmillan Publishing Company.

Dahar, R.W. 1986. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta UT.

Kemp, J.E., Morrison, G.R., Ross, S.M. 1994. Designing Learning in the Science Classroom. New York: Glencoe Macmillan/Mc.Graw-Hill.

*) FKIP Universitas Terbuka

Hasil LCT MIPA SMP KARTIKA II-2 BANDARLAMPUNG

Lomba Cepat Tepat (LCT) MIPA SMP Kartika II-2 Bandarlampung dalam rangka Lomba Intern SMP Kartika II-2 Bandarlampung diikuti oleh 6 regu yang terdiri dari:
Grup I
Regu A (Ria Aghnesia, Fauzia Mariani, Devi Julia)
Regu B (Tara Marselina, Hesti Pradita Bahri, Dewi Ismawati)
Regu C (Vivi Alifiya, Intania Riska S, Anggi Risca Wijaya)

Grup II
Regu D (Linda Lestari, Chairunnisa, Muhammad Fadhil)
Regu E (Panji Mario Leksono, Resya Herania, Ersalina Amalia Solikhah)
Regu F (Lia Stiani Hermawan, Fifin Mustikasari, Yudha Agung Permana)

Setiap peserta diharuskan menjawab soal-soal yang terdiri dari soal Matematika dan IPA (Fisika dan Biologi). Dari hasil kualifikasi, Regu C dan Regu E berhasil menjadi juara I pada masing-masing Grup dan berhak melaju ke babak final. Sedangkan Regu A melaju ke final setelah menjadi Runner Up terbaik.

Babak final ini regu terdiri dari:
Regu A (Vivi Alifiya, Intania Riska S, Anggi Risca Wijaya)
Regu B (Ria Aghnesia, Fauzia Mariani, Devi Julia)
Regu C (Panji Mario Leksono, Resya Herania, Ersalina Amalia Solikhah)

Pada babak final terlihat semua peserta sangat antusias untuk menjawab seluruh soal. Setelah melewati babak regu dan babak rebutan Regu A dan Regu C sama-sama mengumpulkan nilai 700. Akhirnya dewan juri memberikan 1 soal tambahan, dan berhasil dijawab dengan baik oleh Regu C, dan akhirnya Regu C menjadi juara I (medali emas) LCT MIPA, Juara II (medali perak) diraih oleh Regu A, dan Juara III (medali perunggu) diraih oleh Regu B.

Dewan Juri LCT MIPA Kartika II-2 Bandarlampung ini terdiri dari:
1. Bapak Syahruddin, S.Pd. (Juri I bidang Matematika)
2. Ibu Retno Dwi Astuti, S.Pd. (Juri II bidang IPA)
3. Bapak Drs. Kardio (Juri hitung)
Sedangkan pembaca dan penayang soal Bapak Asuro, S.Pd.

Kami ucapkan selamat kepada para pemenang! semoga terus dapat ditingkatkan lagi kompetensinya.

Senin, Maret 03, 2008

Pengumuman

Untuk anak-anak Olympiade MIPA, Pembimbing akan mengadakan kegiatan LCT MIPA yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.
Untuk itu diharapkan kepada anak-anak olympiade agar mempersiapkan diri untuk mengikuti tahapan-tahapan lomba, yaitu:
1. Seleksi peserta
(diambil 18 orang peserta terbaik dan akan dibagi menjadi 6 kelompok LCT)
2. Pelaksanaan Lomba
Juara 1
Juara 2
Juara 3

Untuk informasi lebih lanjut hub:
1. Ibu Retno Dwi Astuti, S.Pd. (Pembimbing Olympiade Biologi)
2. Bpk. Syahruddin, S.Pd. (Pembimbing Olympiade Matematika)
3. Bpk. Asuro, S.Pd. (Pembimbing Olymipade Fisika)
(kirim e-mail ke: awie.albantany@gmail.com)

Terima Kasih

Kamis, Februari 28, 2008

Komponen Portofolio

Sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran meningkatkan profesionalisme guru mengangkat harkat dan martabat guru.
Apa bagaimana sertifikasi dilaksanakan ?
Sasaran
Sejumlah 200. 450 guru keras dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan, PNS dan non PNS. Terdiri atas 20.000 guru SD dan SMP yang sudah didaftar pada tahun 2006, dan 180. 450 guru SD , SMP, SMA, SMK, dan SLB yang didaftar pada tahun 2007
Syarat Peserta Sertifikasi
Memiliki kualifikasi minimal S1 atau D 4
Guru PNS dan non PNS pada sekolah negeri dan swasta
Penetapan Peserta Sertifikasi Guru
Penetapan peserta sertifikasi diawali dengan penetapan kuota peserta sertifikasi guru per kabupaten/kota masing–masing untuk PNS dan non PNS.Penetapan kuota didasarkan pada jumlah guru keseluruhan yang terdapat dalam sistem inpormasi manjemen pendidik dan tenaga kependidikan (SIMPTK) Ditjen PMPTK
Penetapan peserta sertifikasi guru tahun 2007 didasarkan pada kreteria dengan urutan Prioritas: masa kerja sebagai guru, usia, golongan, (bagi PNS), beban mengajar, tugas tambahan dan prestasi kerja.
Dinas pendidikan kabupaten/kota menyusun untuk daftar urut guru berdasarkan periotas pertama yaitu masa kerja, yang memiliki masa kerja paling lama berada diposisi paling atas. Apalagi ada guru memiliki masa kerja yang sama maka diurutkan dengan keteria berikutnya yaitu usia, dan golongan yang sama maka diurutkan berdasarkan beban mengajar demikian seterusnya. Daftar urut ini dibuat perjenjang
Berdasarkan daftar urut tersebut, Dinas pendidikan Kabupaten/kota menetapkan peserta sertifikasi guru sesuai dengan jumlah kuota perjenjang pendidikan baik PNS, dan mengumumkan peserta secara terbuka
Apa bila guru ada yang dirugikan dalam proses penetapan peserta sertifikasi guru, harap diklarifikasikan ke Dinas pendidikan kabupaten/kota. Jika tidak ada solusi dapat melapor ke pusat melalui unit pelayanan sertifkasi guru di Direktorat propesi pendidik, Direktorat Jendral PMPTK.
Pelaksanaan Sertifkasi Guru
Sertifasi guru dakam jabatan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan di tetapkan oleh menteri Pendidikan Nasional. Sesuai Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007,sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian Portopolio tersebut merupakan pengakuan atas pengalaman propesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang yang mendeskripsikan:
Kualifikasi akademik
Pendidikan dan Pelatihan
Pengalaman mengajar
Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
penilaian dariatasan dan pengawas
Prestasi akademik
Karya pengembangan propesi
Keikutsertaan dalam Forum ilmiah
Pengalaman diorganisasi dibidang kependidikan dan sosial
penghargaan yang Relevan dengan bidang pendidikan.


KOMPONEN PORTOPOLIO
Kualifikasi akademik, tingkat pendidikan Formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1, S2, atau S3) maupun non gelar (D4 atau post Graduate Diploma)baik di dalam maupun di luar negeri Bukti fisik yang dikumpulkan: foto kopi ijazah/ sertifikasi yang telah dilegalisasi oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan atau oleh Ditjen Dikti untuk ijazah/sertifikat luar negeri.
Pendidikan dan pelatihan, pengalaman dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan pengembangan/atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Bukti fisik yang dikumpulkan: foto kopi sertifikasi/piagam/surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Pengalaman mengajar, masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah,dan atau keopok masyarakat penyelenggara pendidikan) Bukti Fisik: foto kopi SK, yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, perencanaan pebelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Bukti Fisik : dokumen perencanaan pembelajaran (RP/ RPP/SP)yang diketahui /disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran dikelas. Bukti fisik yang diminta adalah dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas dengan menggunakan format penilaian yang telah disediakan ,dan dilampirkan dalam amplok penutup.
Penilaian dari atasan dan pengawas, penilaian oleh kepala sekolah dan ngawas terhadap kompetensi kepribadian dan sosial guru. Bukti fisik:hasil penilaian dengan menggunakan format penilaian yang telah disediakan dan dilampirkan dalam amplop tertutup.
Prestasi akademik, prestasi yang dicapai guru,terkait dengan bidang keahliannya dan dapat pengakuan dari lembaga/panitia penyelenggara.komponen ini meliputi: Lomba dan karya akademik( juara lomba atau penemuan karya nomenta) dan Pembimbingan teman sejawat dan/atau siswa (instruktur, guru inti, tutor, atau pembimbing kegiatan siswa) bukti fisik: foto kopi, piagam penghargaan/sertifikat, surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Karya pengembangan profesi, suatu karya yang menunjukan upaya pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru, meliputi: Buku yang dipublikasikan Artikel yang dibuat dalam media jurnal /buletin Modul/diklat yang menimal mencakup materi pembelajaran selama satu tahun Media/alat pembelajaran dalam bidangnya Laporan penelitian tindakan kelas (individu atau kelompok) dan Karya seni ( patung,rupa,tari,lukis,sastra,dll). Bukti fisik berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut dan dilegalisasikan oleh atasan.
Keikutsertaan dalam forum ilmiah, partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya,baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta.bukti fisik: foto kopi makalah, piagam/sertifikat yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, pengalaman guru menjadi pengurus organisasi kependidikan dan sosial, dan atau mendapat tugas tambahan, pengurus organisasi dibidang kependidikan antara lain PGRI, Ikatan sarjana pendidikan indonesia (ISPI) pengurus organisasi sosial ketua RT, RW, dan LMD/BPD. Mendapat tugas tambahan antara lain kepala sekolah ,ketua jurusan,dan kepala lab/bengkel studio,bukti fisik: surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.
Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan, penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/geografis) kualitatif (komitmen, etos kerja) relevasi (dalam bidang/rumpun bidang). Bukti fisik: foto kopi sertifikat/piagam/surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.
Sumber: http://www.lpmpjabar.go.id

STM dan Pembelajaran IPA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dengan topik pesawat sederhana dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Topik pesawat sederhana tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan masyarakat sehari-hari karena hampir semua lapisan masyarakat menggunakannya sebagai alat bantu dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Model pembelajaran ini diterapkan kepada siswa kelas lima SD Utan kayu Selatan 01 dan 03 pagi Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan baik kepala sekolah maupun guru yang mengajar di kelas lima sangat senang. Guru yang biasanya lebih sering menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dalam mengajarkan IPA menjadi lebih bersemangat dengan menerapkan pendekatan STM. Dengan membuat kliping tentang kegiatan manusia yang berkaitan dengan penggunaan pesawat sederhana sebagai alat bantu dalam kegiatannya sehari-hari dan setelah mengalami pembelajaran IPA di dalam kelas, siswa dapat mengetahui pesawat sederhana, jenis-jenis pesawat sederhana, dan bagaimana menggunakan pesawat sederhana secara benar.
Kata kunci : Pesawat sederhana, pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, model pembelajaran IPA, metode ceramah dan pemberian tugas.
1. Pendahuluan
Penguasaan Iptek merupakan kunci penting dalam abad 21 ini. Oleh karena itu, peserta didik perlu dipersiapkan untuk mengenal, memahami, dan menguasai Iptek dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya untuk mempersiapkan hal itu memang sudah dilakukan melalui pendidikan formal, sesuai dengan Undang-undang No. 2 tahun 1989. Pengantar Sains dan Teknologi pun sudah diajarkan sejak pendidikan dasar.
Persiapan sedini mungkin sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan yang secara kualitatif cenderung meningkat. Berbagai tantangan muncul, antara lain menyangkut peningkatan kualitas hidup, pemerataan hasil pembangunan, partisipasi masyarakat, dan kemampuan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Pendidikan IPA sebagai bagian dari pendidikan umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berfikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan IPA dan teknologi.
Dewasa ini, pembelajaran IPA masih didominasi ole penggunaan metode ceramah dan kegiatannya lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Guru menjelaskan IPA hanya sebatas produk dan sedikit proses. Salah satu penyebabnya adalah padatnya materi yang harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Padahal, dalam membahas IPA tidak cukup hanya menekankan pada produk, tetapi yang lebih penting adalah proses untuk membuktikan atau mendapatkan suatu teori atau hukum. Oleh karena itu, alat peraga/praktikum sebagai alat media pendidikan untuk menjelaskan IPA sangat diperlukan. Pembelajaran IPA dengan menggunakan alat peraga sangat efektif untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai limiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan YME. Tujuan IPA secara umum adalah agar siswa memahami konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memiliki keterampilan tentang alam sekitar untuk mengembangkan pengetahuan tentang proses alam sekitar, mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala alam dan mampu menggunakan teknologi sederhana untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994).
Salah satu cara untuk dapat menciptakan sumber daya manusia berkualitas, guru dalam mengajar dapat menggunakan beberapa metode dan pendekatan. Dalam hal ini, pendekatan yang paling sesuai dengan perkembangan Iptek adalah pendekatan Sains Teknologi Masyarakat ( STM ), karena pendekatan ini memungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menampilkan peranan Sains dan Teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA, guru dapat memulai dengan isu yang dikemukakan oleh siswa yang ada di masyarakat.
Dengan menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA siswa tidak hanya sekedar menerima informasi dari guru saja, karena dalam hal ini guru sebagai motivator dan fasilitator yang mengarahkan siswa agar dapat memberikan saran-saran berdasarkan hasil pengamatannya di masyarakat. Misalnya siswa dapat memberikan saran-saran kepada masyarakat tentang penggunaan pesawat sederhana secara benar.
Menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA dengan topik pesawat sederhana dimaksudkan agar siswa memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat sebagai akibat ketidaktahuan dan ketidaktepatan masyarakat dalam menggunakan pesawat sederhana. Untuk itu, siswa terjun langsung ke masyarakat untuk mencari informasi sebagai dasar untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi masyarakat.
Atas dasar inilah maka tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan suatu model pembelajaran dengan mengunakan pendekatan STM tentang konsep pesawat sederhana yang diajarkan di kelas 5 sekolah dasar berdasarkan kurikulim 1994. Melalui model ini, akan dapat dilihat selain penguasaan konsep tentang pesawat sederhana khususnya dan IPA pada umumnya serta kreativitas siswa dalam menerapkan konsep pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kajian Literatur
Penguasaan konsep merupakan penguasaan terhadap abstraksi yang memiliki satu kelas atau objek-objek kejadian atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Menurut Piaget pertumbuhan intelektual manusia terjadi karena adanya proses kontinyu yang menunjukkan equilibrium-disequilibrium, sehingga akan tercapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi (Ratna Wilis, 1989:160-164). Belajar akan menjadi efektif apabila kegiatan belajar sesuai dengan perkembangan intelektual anak. Selain itu, guru di dalam kelas perlu mengenal anak didik dan bakat khusus yang mereka milki agar dapat memberikan pengalaman pendidikan yang dibutuhkan oleh masing-masing siswa untuk dapat mengembangkan bakat mereka secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan (Conny Semiawan, AS Munandar, SCU Munandar; 1990:3).
Sikap yang terbentuk pada diri siswa terhadap mata pelajaran tentunya tergantung pada sikap gurunya terhadap mata pelajaran itu, dan bagaimana cara guru menyampaikan mata pelajaran itu. Apabila setiap mengajar guru bersikap positif dan baik, maka lambat laun siswa berada dalam kondisi belajar yang berkesan baik dan mendalam, sehingga terbentuk sikap positif terhadap mata pelajaran itu. Jika mata pelajaran tersebut adalah IPA maka akan terbentuklah sikap yang positif terhadap IPA.
Karena belajar bukan sekedar untuk memahami tentang sesuatu fakta tertentu melainkan bagaimana menginteprestasikan fakta-fakta tersebut ke dalam konteks kehidupan pribadi. Seperti yang dikemukakan oleh (Suharsimi Arikunto,1995:19) bahwa sebenarnya sikap merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Menurut Wynne Harlen (1987) dalam Hendro Darmodjo dan Yenny Kaligis (1992: 7-12), ada 9 aspek sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD yaitu: (1) sikap ingin tahu (curiousity); (2) sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru (originality) (3) sikap kerja sama (cooperation), (4) sikap tidak putus asa (perseverense), (5) sikap tidak berprasangka (open mendidness), (6) sikap mawas diri (self criticism), (7) sikap bertanggung jawab (responsibility), (8) sikap berpikir bebas (independence in thinking), dan (9) sikap kedisiplinan diri (self discipline).
Kreativitas sebagai suatu proses memberikan berbagai gagasan dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, sebagai proses bermain dengan gagasan-gagasan atau unsur-unsur dalam pikiran merupakan keasyikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi siswa kreatif. Kreativitas dalam hal ini merupakan proses berfikir di mana siswa berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan baru. Mendapatkan jawaban metode atau cara baru dalam memecahkan suatu masalah. Bagi pendidikan, yang terpenting bukanlah apa yang dihasilkan dari proses tersebut, tetapi keasyikan dan kesenangan siswa terlibat dalam proses tersebut. Proses bersibuk diri secara kreatif perlu juga mendapatkan penghargaan dari pendidik. Guru tidak perlu selalu mengharapkan produk-produk yang berguna dari kegiatan kreativitasnya, yang perlu dirangsang dan dipupuk adalah sikap dan minat untuk melibatkan diri dalam kegiatan kreatif. Gordon dan M. D. Dahlan (1990) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan kegiatan sehari-hari dan berlangsung seumur hidup dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), Ekspresi kreatif (creative expression) empati, insight dalam hubungan sosial dan ide-ide yang bermakna dapat meningkatkan aktivitas kreatif melalui bantuan daya pikir yang lebih kaya.
Pendidikan sains dengan menggunakan pendekatan STM adalah suatu bentuk pengajaran yang tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep sains saja tetapi juga menekankan pada peran sains dan teknologi di dalam berbagai kehidupan masyarakat dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap dampak sains dan teknologi yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, Hidayat (1996: 16) dan Poedjiadi (1994: 9) berpendapat sama bahwa belajar IPA melalui isu-isu sosial di masyarakat yang ada kaitannya dengan IPA dan Teknologi dirasakan lebih dekat, dan belajar IPA melalui isu-isu sosial di masyarkat yang ada kaitannya dengan IPA dan teknologi dirasakan lebih punya arti bila dibandingkan dengan konsep-konsep dan teori IPA itu sendiri.
Selanjutnya, Poedjiadi (1994: 9) menyatakan bahwa pendekatan STM menitikberatkan pada penyelesaian masalah dan proses berpikir yang melibatkan transfer jarak jauh. Artinya, menerapkan konsep-konsep yang diperoleh di sekolah pada situasi di luar sekolah yaitu yang ada di masyarakat, misalnya pesawat sederhana, merupakan alat bantu yang dapat memudahkan manusia dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari di masyarakat. Strateginya adalah dengan cara memecahkan masalah isu sosial. Pembelajaran dengan menggunakan pedekatan STM memiliki ciri yang paling utama, yang dilakukan dengan memunculkan isu sosial di awal pembelajaran dan guru sebelumnya sudah memiliki isu yang sesuai dengan konsep yang akan diajarkan. Adalah suatu kekeliruan apabila seorang guru mengajarkan IPA dengan cara mentransfer saja apa–apa yang disebut di dalam buku teks kepada anak-anak didiknya. Hal ini disebabkan apa yang tersurat di dalam buku teks itu baru merupakan satu sisi atau satu dimensi saja dari IPA yaitu dimensi produk. Buku teks merupakan body of knowledge dari IPA, akumulasi hasil upaya para perintis yang terdahulu; tetapi, sisi lain dari IPA yang tidak kalah pentingnya adalah dimensi proses; maksudnya, proses mendapatkan ilmu itu sendiri. IPA diperoleh melalui penelitian dengan menggunakan langkah-langkah tertentu yang disebut metode ilmiah. Secara umum, sekolah dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap, kemampuan, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk siap dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Dengan pengajaran IPA, diharapkan siswa akan memahami alam sekitarnya yang meliputi benda-benda alam dan buatan manusia serta konsep-konsep IPA yang terkandung di dalamnya. Harapan berikutnya adalah siswa memiliki keterampilan untuk mendapatkan ilmu berupa keterampilan proses atau metode ilmiah yang sederhana, memiliki sikap ilmiah di dalam menentukan apa yang perlu dilakukan terhadap suatu masalah. Para siswa yang mengalami pengajaran IPA dengan pendekatan STM akan tampak berbeda dari siswa yang mengalami pengajaran IPA secara tradisional. Pada pengajaran dengan pendekatan STM, siswa melihat proses sains sebagai keterampilan yang dapat mereka gunakan, menjadi lebih ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini, memandang guru sebagai fasilitator/penuntun, dan lebih banyak bertanya di mana pertanyaan itu digunakan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan dan materi STM, terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatan dan penuh dengan ide-ide murni. (Eddy Hidayat, 1996: 14).
Anak usia SD adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional, maupun pertumbuhan badaniah. Adalah suatu kenyataan bahwa kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut adalah tidak sama. Ada yang pertumbuhan badannya lebih cepat. Demikian situasinya sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Inilah suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak SD walaupun mereka dalam usia yang sama. Hal inilah yang harus diperhitungkan dan dicermati oleh guru untuk memulai pembelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami tingkat perkembangan intelektual anak.
Belajar bukan hanya sekedar mengingat, melainkan lebih luas dari itu yakni mengalami dan hasil belajar bukan hanya penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Sedangkan mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan yang dimaksud terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi, seperti tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa sebagai obyek yang akan berperan serta dalam jalinan hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, dan sarana prasarana belajar yang tersedia. Komponen-komponen itulah yang saling berinteraksi sebagai suatu sistem, dan saling pengaruh mempengaruhi. Karenanya, setiap peristiwa mengajar memiliki profil yang unik. Setiap profil sistem lingkungan pun mencapai volume hasil yang berbeda atau untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus diciptakan sistem lingkungan belajar tertentu pula.
Penelitian mengenai pendekatan STM yang dilakukan oleh Hairida (1996) menyebutkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan STM dapat meningkatkan penguasaan konsep dan sikap siswa untuk materi-materi yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Rata-rata siswa pada kelas eksperimen bersikap positif terhadap pembelajaran dengan menggunakan STM.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh I Made Alit (1993) ditemukan bahwa siswa yang diajar melalui pendekatan STM pengaruhnya lebih beragam (efek iringan dan keterampilan proses sains) dari pada pendekatan biasa (ceramah diselengi dengan tanya jawab dan diskusi). Efek iringan tersebut berupa memiliki sikap toleran terhadap pandangan yang berbeda dengan pendapatnya sendiri, sadar akan dampak positif dan negatif terhadap suatu teknologi, menyadari adanya nilai yang dianut dalam masyarakat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sesuai. Pada soal-soal berbentuk objektif, siswa yang diajar melalui pendekatan biasa memiliki penguasaan konsep yang lebih baik dari pada kelas STM. Tampaklah bahwa pendidikan sains dengan pendekatan STM akan memberikan keuntungan nyata kepada siswa yang ingin meningkatkan literasi sains, yang mempunyai perhatian terhadap sains dan teknologi serta perhatian terhadap interaksi antara Sains Tekologi dan Masyarakat. Pemahaman yang lebih baik dalam sains dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, bernalar logis, dan memecahkan masalah secara kreatif.
3. Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan desain kelompok tunggal dengan tes awal dan tes akhir. Pelaksanaan eksperimental dilakukan dengan memberi perlakuan (X) terhadap satu kelompok eksperimen. Sebelum diberi perlakuan, kelompok tersebut diberi pre tes (T1) dan postes (T2). Hasil kedua tes tersebut di bandingkan untuk menguji apakah perlakuan memberi pengaruh (H. Muhammad Ali, 141).
Desain kelompok tunggal digambarkan sebagai berikut :
Pretes Perlakuan Postes
T1 X T2
Pada kelompok eksperimen ini diterapkan model pembelajaran dengan pendekatan STM.
Sekolah yang menjadi sampel penelitian adalah sekolah yang tidak memiliki kelas paralel dan letaknya jauh dari keramaian kota serta jarak antara dua sekolah tadi berdekatan dalam satu komplek (halaman). Respndennya adalah siswa kelas V dari dua sekolah yang berbeda yaitu kelas dari SDN 03 Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, dengan jumlah 39 siswa dan SDN 01 Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, dengan jumlah siswa 35 anak.
Pengambilan sampel penelitian dari sekolah dasar yang berbeda dimaksudkan agar informasi yang diperoleh dapat lebih banyak dan jumlah guru yang mengajar dengan pendekatan STM tidak hanya satu orang saja.
Data diperoleh berdasarkan observasi saat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dengan tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
(1) Tahap apersepsi (inisisasi, invitasi, dan ekplorasi) yang mengemukakan isu/masalah aktual yang ada di masyarakat dan dapat diamati oleh siswa.
(2) Tahap pembentukan konsep, yaitu siswa membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui observasi, eksperimentasi, dan diskusi.
(3) Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah yaitu menganalisis isu atau masalah yang telah dikemukakan di awal pembelajaran berdasarkan konsep yang telah dipahami sebelumnya.
(4) Tahap pemantapan konsep, di mana guru memberikan pemantapan konsep agar tidak terjadi kesalahan konsep pada siswa.
(5) Tahap evaluasi penggunaan tes untuk mengetahui penguasaan konsep.
4. Hasil dan Pembahasan
Hasil pretes dan postes tentang konsep pesawat sederhana dan dalam pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan STM dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan dapat mengubah sikap para siswa menjadi lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan STM dapat menimbulkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan, khususnya permasalahan yang terjadi di masyarakat, sehingga mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan bukti dan pemikiran yang rasional. Kreativitas siswa sebelum pembelajaran dilakukan dengan membuat kliping tentang penggunaan pesawat sederhana oleh masyarakat untuk membantu aktivitasnya sehari-hari. Selama pembelajaran berlangsung, kreativitas dapat dilihat pada saat: (a) pelaksanaan praktikum menjawab LKS, (b) setelah siswa membuat rancangan alat sederhana yang akan dibuat, (c) proses pembuatan alat sederhana, dan (d) siswa mempresentasi alat sederhana.
Terdapat perbedaan sikap yang signifikan dalam penguasaan siswa SD tentang konsep pesawat sederhana dan kreativitas yang dilakukan pada saat merancang dan membuat alat pesawat sederhana antara sebelum (pretes) dan sesudah (postes) dengan menggunakan pendekatan STM. Dengan kata lain, tingginya kamampuan dalam memahami konsep dan tingginya kreativitas dalam merancang dan membuat alat dibarengi dengan sikap positif terhadap IPA khususnya pesawat sederhana.
Hal ini terjadi karena model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat memotivasi siswa untuk lebih kreatif mengemukakan isu-isu dan permasalahan yang tejadi di masyarakat baik itu isu sosial ataupun isu teknologi. Selain itu, ide atau pendapat siswa secara perorangan maupun kelompok sangat dihargai dan semua siswa terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
Dengan mengikuti kegiatan ilmiah yang dilakukan dalam pembelajaran dengan pendekatan STM, siswa menyadari adanya suatu masalah dan mempunyai keinginan untuk memecahkan masalah, serta kemudian menyimpulkan fakta-fakta yang ada hubungannya dengan masalah yang terjadi melalui pengamatan. Untuk melatih siswa agar memiliki kreativitas yang tinggi dalam pendekatan STM di dalam semua kegiatan perlu dilakukan aktivitas yang optimal dari semua siswa.
5. Simpulan dan Saran
Pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan penguasaan konsep pesawat sederhana yang telah dibuktikan dengan nilai tes akhir (postes). Pada mulanya siswa mengetahui bahwa pesawat sederhana adalah pesawat terbang dan kendaraan beroda empat. Setelah pembelajaran dengan pendekatan STM siswa dapat menyebutkan arti, jenis, dan cara menggunakan pesawat sederhana dengan benar.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan sikap siswa yang semula kurang baik menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap kegiatan masyarakat sehari-hari seperti: (a) tukang minuman yang sedang membuka tutup botol, (b) ayah yang sedang mencabut paku di dinding, (c) tukang minyak tanah yang sedang memindahkan drum besar dari bawah ka atas truk, dan (d) paman yang sedang memindahkan lemari yang besar dari ruang tamu ke dalam kamar.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM dapat meningkatkan kreativitas siswa yang semula hanya dapat mengumpulkan satu jenis pesawat sederhana sampai kemudian dapat menganalisis kegiatan masyarakat yang menggunakan pesawat sederhana dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, siswa juga dapat menggambarkan dan merancang salah satu contoh alat dari jenis pesawat sederhana serta sekaligus membuatnya dan berusaha untuk membuat jenis pesawat sederhana lainnya.
6. Saran
Pendekatan STM dalam pembelajaran IPA perlu mendapat perhatian dan tanggapan yang serius dari guru karena melalui pendekatan ini siswa dapat memperluas dan memperdalam pemahaman tentang Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya sekedar pemahaman konsepnya. Dengan demikian, upaya meningkatkan pengembangan literasi sains (science literacy) dan teknologi siswa dicapai dengan mudah.
Berkaitan dengan materi, tidak semua materi IPA dapat dilaksanakan dengan mengunakan STM. Materi yang akan diajarkan dengan pendekatan STM ini harus benar-benar diplih dan disesuaikan dengan kekhasan dari pendekatan STM dan isu yang terjadi di masyarakat.
Dalam mempersiapkan pembelajaran dengan pendekatan STM, selain materi yang akan diajarkan harus disesuaikan dengan kekhasan pendekatan STM, juga kondisi lingkungannya perlu diperhatikan sehingga proses pembelajaran tidak asing dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Pustaka Acuan
Arikunto S. 1995. Dasar–dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdikbud. 1994. Lampiran II Kepustakaan Depdikbud RI Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta
Eddy M Hidayat. 1996. Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: makalah PPS IKIP
Hairida. 1996. Pengajaran Konsep Zat Aditif dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Tesis PPS IKIP.
Hendro Darmodjo, Kaligis, Yenny. 1991/1992. Pendidikan IPA II hal 7-11, Depdikbud Dirjen DIKTI, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
I Made Alit. 1993. Implikasi an Pendekatan Science Technolgy Society terhadap efek iringan. Bandung: Tesis PPS IKIP.
Mundandar, SCU, Munandar As, Conny Semiawan. 1990. Memupuk Bakat Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia
Muhammad Djawad Dahlan, 1990, Model – model mengajar. Bandung: Diponegoro.
Poedjiadi. 1993. Mewujudkan Literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan. Hal 4,5,6 Disampaikan pada Seminar FPMIPA IKIP Bandung
Poedjiadi. 1994. Konsep STS Dan Pengembangannya berdasarkan Kurikulum sekolah. Hal. 7,8,9, disampaikan pada seminar PPPG IPA Bandung
Ratna Wilis Dahar, 1989, Teori – teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

dikutip dari: http://www.duniaguru.com

Sabtu, Januari 12, 2008

Selamat Tahun Baru Hijriah

Selamat Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1429 H! Semoga tahun ini akan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Amiin.... Maaf, blogger ini baru belajar, jadi harap maklum ya!